3/23/2012

Sebuah Pencerahan di tahun 2012

2 tahun sudah berlalu. Banyak sekali yang terjadi. Dan gak nyangka juga, akhirnya hati saya tergerak lagi untuk kembali kesini setelah sekian lama terlupakan.

Sejak terakhir saya kuret karena janin gak berkembang di tahun 2010, saya dan Misua memutuskan untuk ngejalanin hari-hari dengan santai tanpa beban. Maksudnya tanpa beban, kita akan mencoba hanya dengan cara alami. Tanpa program dokter, tanpa obat atau terapi apapun agar bisa punya anak. Keputusan kita itu didukung oleh dr Achmad, yang saat itu bilang agar kita santai-santai saja dulu karena masih muda (padahal engga juga sih sebenernya). Selain mengiyakan kata dokter, kita pun yakin jika Tuhan memang mengizinkan, masa itu akan datang dengan sendirinya tanpa perlu stress berlebihan. Tapi saking santainya (dan mungkin takut trauma), kita malah keasikan menikmati hidup yang apa adanya di antara teman dan keluarga tanpa sedikit pun mengungkit-ungkit masalah anak. 

Sampai akhirnya kita baru sadar kalau sudah 2 tahun peristiwa itu berlalu. Senang karena ternyata kita bisa melewati semua itu tanpa beban pikiran yang berarti, tapi juga sekaligus syok karena sudah melewati waktu yang cukup panjang itu tanpa berbuat apa-apa. Kita sadar, waktu menjadi sangat berharga, dan rasanya salah besar jika kita tak memperjuangkan apa-apa untuk mendapatkan apa yang selama ini kita idam-idamkan.

Akhirnya kita memutuskan untuk kembali ke dokter dan serius mengikuti program di tahun 2012. Setelah tanya kanan kiri dan browsing sana sini, pilihan jatuh ke dr. Budi Wiweko. Kali ini kita berusaha lebih realistis untuk mencari dokter spesialis infertilitas untuk mendapatkan kejelasan yang lebih mendalam. Kebetulan beliau praktek di RSPI, yang rumah sakitnya cukup familiar dan lokasi pun gak jauh dari rumah maupun kantor.



Setelah melihat hasil cek darah dan USG TV, dia menyimpulkan kalau saya memiliki PCOS (Polycystic Ovarian Syndrome). Yaitu memiliki telur yang tidak matang atau kecil-kecil sehingga tidak cukup baik untuk dibuahi. Pantes aja dari usia SMP sampai sekarang, saya sering mens gak teratur. Penyebab semua ini adalah karena saya 'insuline resistance' sebuah kondisi di mana badan saya tidak peka terhadap insulin yang dibutuhkan untuk menyalurkan gula di dalam tubuh. Hal ini membuat hormon saya kacau dan membuat telur saya tak bisa berkembang dengan semestinya. Ketika ditanya penyebabnya, dokter bilang ini biasa terjadi pada anak yang memiliki keturunan diabetes. Kebetulan ayah saya pengidap diabetes. Dan walaupun begitu, hasil lab menunjukkan gula darah saya masih dalam batas normal, walaupun artinya mulai sekarang saya harus lebih menjaga konsumsi gula karena memang beresiko untuk terkena diabetes. 

Semua jadi semakin masuk akal sekarang. Setelah saya googling lebih banyak lagi tentang penyakit ini, semakin banyak pertanyaan-pertanyaan mengenai tubuh saya yang terjawab di penyakit ini. Mulai dari mens gak teratur, jerawat di punggung, bulu yang cenderung banyak, warna kehitaman di lipatan-lipatan tertentu, sampai berat badan yang lebih gampang naik daripada turun. Semua ada satu paket di penyakit ini. Dan semua itu mulai terjadi begitu saya menginjak masa pubertas tanpa sedikit pun curiga kalau ini akan membuat saya sulit hamil nantinya.

Lucunya saya gak kaget mendengar berita ini. Justru saya cukup lega karena akhirnya mendapatkan jawaban yang selama bertahun-tahun ini menghantui saya. Saya juga cukup positif, kalau penyakit ini, walaupun tidak bisa disembuhkan, tapi bisa diobati dan disiasati agar tujuan utama kita untuk hamil bisa tercapai.

Lebih banyak mengenai PCOS bisa dilihat di sini