2/24/2015

Pertemuan dengan dr. Nurwansyah

Hari ini akhirnya datang juga. Hari di mana akhirnya kita memberanikan diri untuk mengganti dokter. Pilihan kami akhirnya jatuh ke dr. Nurwansyah di RSB Asih. Setelah browsing sana-sini dan tanya dengan beberapa teman, sepertinya dialah profil dokter yang sepertinya cocok untuk kami. Berita miring yang agak memberatkan tentang beliau hanyalah antreannya yang sangat mengerikan. Paling ga begitulah kata teman saya yang pernah ditangani beliau. Bayangin aja, walaupun mulainya dari sore, tapi kadang namanya baru kepanggil di jam 11 malam. Belum lagi katanya juga, dia suka tiba-tiba gak dateng pas praktek (mungkin karena ada tindakan di tempat lain). Semua ini menggambarkan bejibunnya pasien beliau. Tapi selebihnya semua review tentang dokter ini cukup positif. Terkenal cukup detail dalam usg dan mau berterus terang tentang keadaan pasien. Paling tidak hal ini cukup buat saya. Soalnya setiap dokter itu kan pasti ada plus minusnya. Kalo kita gak cobain sendiri, kita gak pernah tau mana yang bisa kita toleransi dan mana yang engga. Tiap orang kan beda-beda faktor pemilihan dokternya.

Beliau praktek dari jam 3 sore. Tapi susternya bilang, pendaftaran sudah dibuka 1 jam sebelumnya, yaitu jam 2 siang. Setelah itu antrean akan dilakukan berdasarkan orang yang pertama mendaftar. First come first serve. Maksud hati sih sampai di sana jam 2 teng, supaya dapat nomor-nomor awal. tapi ternyata saya pun ketahan sama kerjaan di kantor. Untung lokasi dari kantor cukup dekat. Jadi akhirnya saya sampai sana jam 3 sore. Sesampainya di sana, mendaftar sebagai pasien baru dulu di bagian depan dekat UGD, baru akhirnya diarahkan ke poli kebidanannya. Sesampainya di poli, saya bilang kalau ini kunjungan pertama saya. Suster menanyakan buku/data hamil saya di minggu-minggu sebelumnya, yang saya jawab dengan gelengan kepala karena saya memang tidak berhasil mendapatkan data medis saya dari JWCC... KZL! (Nanti pasti akan saya kejar data itu sampai dapat. Karena biar bagaimana pun itu kan hak pasien). Data yang saya bawa hanyalah keterangan hari pertama mens terakhir, hasil test kekentalan darah 3 bulan terakhir dan hasil USG 4D di minggu ke 22 kemarin. Saya lalu ditensi (112/72)  dan ditimbang berat badannya. Kita mendapat antran no 10 dengan perkiraan 5 antrean memakan waktu sekitar 1 jam. Jadi kalo dapet nomer 10, artinya saya baru akan masuk sekitar jam 6 sore.




Untungnya belum sampai jam 6, nama kita sudah dipanggil. Cukup lega karena artinya antrean gak sampe jam 11 malem seperti kata orang-orang. Dokternya tampaknya berusia 50an dan model orangnya santai. Kita disambut dengan celetukan-celetukan yang cukup untuk mencairkan suasana. Dan lucunya ternyata dia pun kenal dr Andi, satu almamater katanya. Setelah menjelaskan sedikit background dari kedatangan saya dan menunjukkan hasil USG terakhir, dr Nur pun akhirnya mempersilakan saya untuk di USG. Saya cukup terkesima dengan cara beliau melakukan USG, Beliau menjabarkan semuanya dengan sangat rinci. Mulai dari lingkar kepala, keberadaan otak kanan dan kiri, leher, empat bilik jantung dan tak adanya kebocoran, lingkar perut, lambung, ginjal, kandung kemih, jenis kelamin, tulang paha, berat bayi, detak jantung (163bpm), hampir semua dijelaskan satu per satu seperti ketika saya melakukan USG 4D (hanya saja dengan gambar kualitas 2D).

So far saya cukup puas dengan pertemuan pertama ini. Ada beberapa vitamin yang dia ganti. Saya cuma mengingatkan kalau saya ada keturunan diabetes (sayangnya saya lupa bilang kalau saya sebelumnya adalah penderita PCOS - dengan kondisi insuline resistance), jadi saya minta dicek gula darah karena takutnya beresiko kena Gestational Diabetes. Beliau pun akhirnya memberi surat pengantar. Selebihnya beliau gak melarang saya makan apa pun dan menekankan kalau kondisi ibu dan bayi sehat dan normal-normal saja. Dia menyarankan untuk datang 1 bulan lagi (sesuatu yang gak pernah kejadian selama saya hamil ini ~ hahaha norak). Saya akan meneruskan check up ke beliau dan so far saya bisa membayangkan proses melahirkan dengannya di RSB Asih. Doakan saja semoga semuanya lancar sampai waktunya nanti dan dia selalu ada di saat-saat paling dibutuhkan. Amiiin.

Resep dokter:

Ascardia 1x1
Calplex 1x1
Prohelic 1x1

2/21/2015

Down Time

Walaupun kita udah tau biaya nyiapin bayi itu akan mahal banget, tapi ketika akhirnya muncul di depan mata, toh akhirnya kita syok-syok juga liat angkanya. Banyak banget yang harus disiapin... dan banyak juga kepengenan-kepengenan yang harus saya korbanin, karena ternyata dana kita masih banyak banget bolongnya. Kadang  akhirnya jadi overwhelmed sendiri. Karena seiring penantian-penantian yang bikin semangat ini, muncul juga masalah-masalah baru. Antara senang dan sedih nyampur aduk dan bikin emosi pun kacau balau.

Mulai dari harus ganti dokter dan kompromi dengan rumah sakit tempat melahirkan (yang sekarang pun belum ketemu juga yang pas). Downgrade barang-barang keperluan bebe. Harus buang jauh-jauh kata travelling, dan cukup berpuas hati dengan mall hopping karena banyak banget faktor yang gak mendukungnya. Dan akhirnya pun saya harus rela gak ada babymoon trip whatsoever dan berharap aja ada keajaiban dan keadaan keuangan membaik, supaya kita bisa jalan-jalan sekeluarga suatu saat nanti.

Belom lagi, kita dihadapin sama suatu isu baru di rumah tangga, di mana kita harus nyatuin ego masing-masing untuk nentuin yang terbaik buat anak. Mulai dari milih mau pake crib  atau co-sleeping, milih jenis stroller yang pas, sampe milih nama yang kita berdua bisa sama-sama suka. It's like a never ending road we got here. Begini aja kadang rasanya udah cape hati banget... mungkin karena pregnancy hormones juga sih. Dan ini aja belom ngebayangin kalo nanti ditambah zombie mode karena kurang tidur pas bebenya udah lahir. Mudah-mudahan kita bisa sabar ngadepinnya. Namanya juga anak pertama... walaupun nikah udah 6 tahun, tetap aja ini sesuatu yang baru buat kita. Jadi kita pun masih kagok nyari jalan keluarnya.

Iya ini emang belum ada apa-apanya. Dan siapa bilang nanti kalau udah lahir, pusingnya bakal ilang. Yang ada kata orang-orang kadar pusingnya malah nambah. Jadi ya kita nikmatin aja ya prosesnya. Hidup emang gak selalu gampang, nak. Banyak juga susahnya. Dan kadang apa yang kita mau belum tentu bisa terpenuhi. Tapi yang penting kita harus bisa berkompromi sama keadaan dan berusaha ikhlas. Mudah-mudahan jalan yang kita lalui selalu dimudahkan kalo kitanya pun legowo. Tapi yang penting di atas semuanya, tentu aja kesehatan dan kebahagiaan kamu.

Sekarang daripada manyun, mending pamer foto ya. Karena biar gimana pun juga, setiap momen itu perlu kita syukuri.

Our self portrait in 23 weeks



2/16/2015

Antara Dokter, Rumah Sakit dan Biaya Melahirkan

Semakin bertambah besarnya perut saya, bayang-bayang melahirkan pun semakin di depan mata. Sementara saya masih belum terbayang rasa sakit melahirkannya nanti, sekarang ini saya justru sudah mulai sakit kepala melihat biaya-biaya yang harus dikeluarkan.

Pertama, saya harus mengganti obgyn yang sudah menangani saya dari awal kehamilan. Jujur saja walaupun sudah cocok banget, tapi tarif beliau memang sangat mahal. Dalam kasus kehamilan saya, saya harus check up ke beliau setiap 2 minggu sekali. Jadilah dompet sudah bolong dari awal kehamilan dan karenanya kita pun jadi tak pernah ada kesempatan untuk menabung. Belum lagi ternyata beliau hanya akan melakukan persalinan di RS Mitra Kemayoran yang jelas-jelas sangat jauh dari rumah dan kantor. Tarifnya pun berkisar antara 50-70jt. Detailnya bagaimana saya memang kurang tahu, karena sudah jelas saya gak akan mungkin bisa melahirkan dengan beliau dengan keadaan keuangan seperti ini. Sebagai seorang obgyn, dr. Andi memang sudah berhasil membuat saya merasa secure dengan kehamilan ini. Setiap bulan saya cek darah untuk memantau kekentalan darah saya. Setiap kedatangan,urine saya dicek untuk memantau kadar protein dan gula darah untuk mendeteksi apabila ada potensi preeklampsia atau gestational diabetes. Gak ada asumsi-asumsi tanpa dasar yang nakutin, ataupun yang justru kelewat meremehkan. Semua dilakukan atas dasar fakta, gak lebih dan gak kurang. Saya merasa berada di tangan yang benar. Big shoes to fill in hehehe.

Mengganti dokter pun ternyata gak gampang. Ada beberapa nama yang akhirnya menjadi kandidat besar kami. Salah satunya dr. Fitriyadi Kusuma atas rekomendasi dr. Andi. Dan yang kedua adalah dr. Aswin Sastrowardoyo, karena banyak teman saya yang ke beliau dan cukup terkesan dengan ketelatenannya menghadapi pasien. Feeling saya cukup kuat mengatakan kalau saya akan cocok dengan 1 di antara 2 dokter ini. Tapi sebelum akhirnya saya mencoba ke mereka, pertimbangan berikutnya adalah tempat mereka melakukan persalinan. Biaya melahirkan di RSPI (tempat mereka berdua praktek dan melakukan persalinan) sangat tinggi harganya. Walaupun gak semahal Mitra Kemayoran dan walaupun kantor saya bisa meng-cover sebagian dananya, angka yang harus saya tombok bisa jadi sampai 10 juta untuk persalinan normal, belum lagi jika harus SC. Bagi kami, angka itu sangat besar sekali karena ini saja belum sampai ke anggaran keperluan bayinya itu sendiri. Jadi saya pun akhirnya harus merelakan RSPI sebagai tempat melahirkan saya, walaupun secara lokasi dan familiarity saya sudah sangat nyaman di sana.

Foto dari www.rsbasih.co.id

Pilihan terbaik yang kami punya adalah RSB Asih. Lokasi gak sedekat RSPI, tapi masih bisa dijangkau dengan mudah. Riwayat medisnya pun cukup terpercaya karena banyak juga teman saya yang melahirkan di sana. Memang sih, sebenernya saya kurang sreg sama suasananya. Bangunannya lebih seperti rumah tua dan penerangannya cenderung bikin hati muram. Hehehe... tapi bismillah mudah-mudahan itu perasaan saya aja, karena yang terpenting harganya masih jauh lebih terjangkau. :P

PR berikutnya adalah mencari dokter di rumah sakit ini. Beberapa teman saya yang melahirkan di sini memang tergolong hamil badak yang gak begitu perlu penanganan khusus ketika hamilnya. Jadi agak susah juga buat menilai dokternya. Akhirnya saya pun kembali berguru ke mbah gugel untuk mencari dokter yang tepat. Pilihan jatuh pada dr. Nurwansyah. Walaupun tampaknya beliau SPOG biasa (bukan spesialis infertility atau fetomaternal), tapi banyak juga yang program dengan beliau dan kasus-kasus yang beliau tangani pun cukup beragam. Jadi rasanya sih dokter ini yang saya cari. Rencananya minggu depan saya akan datang ke dia di RSB Asih. Doakan cocok ya. Bismillah :)   

2/14/2015

Week 22: Things Got More Real :')

Yap, minggu ini adalah jadwalnya untuk USG 4D. Seperti yang saya baca-baca juga, ternyata pemilihan minggu ke22 ini pun bukan tanpa alasan yang kuat. Tapi di minggu ini semua organ-organ penting sudah seharusnya terbentuk sempurna, dan teorinya jika indikasi kelainan tumbuh kembangnya terdeteksi semakin cepat, maka semakin cepat juga tindak lanjutnya.

USG 3D pun sebenarnya sama dengan USG 4D. Semua prosedur yang dilakukan pun sama dengan USG 3D yang pernah saya lakukan di week 12. Cuma bedanya kali ini, wajah sudah semakin terlihat jelas karakternya. Kalau kita beruntung (bayi gak malu-malu menutupi mukanya), maka kita bisa merekam momen itu dalam bentuk video dan disimpan dalam bentuk CD. Tapi itu pun hanya untuk beberapa detik saja. Sisanya, segala pengukuran mendetail dari si bayi dilakukan cukup dengan USG 3D (layar hitam putih, tapi visual dapat dilihat secara 3D dan amat sangat jelas.



Yang dibilang visual amat sangat jelas, memang sempat membuat saya cukup norak dan terkaget-kaget. Bayangkan saja, alat itu tak hanya bisa menembus lapisan perut saya untuk melihat si janin, tapi juga bisa menembus sampai lapisan terdalam si janin sampai semua organ-organnya bisa terlihat dengan amat sangat jelas! Wow! Ini bagaikan inception di dunia kedokteran! Hahaha. Tuh kan norak!





Dokter memperlihatkan lingkar kepala janin dan mengukurnya seperti biasa. Tapi abis itu... satt sett, dia geser-geser doppler itu di perut saya, trus dia bilang "nah, tuh yang dua lingkaran kecil itu, keliatan otak kecilnya yaa" ... dan saya pun bengong. Hal itu terus berlanjut sambil dia menjelaskan organ-organ lainnya. "Nah itu lambung, tandanya dia udah mulai mencerna. Itu ginjal, itu kandung kemih... artinya dia sudah bisa pipis. Itu jantung... tuh liat ada 4 ya biliknya" (saya aja gak pernah liat bilik jantung saya sendiri, sekarang saya bisa melihat bilik jantung anak saya yang masih di dalam rahim. Subhanallah!).

All in all, alhamdulillah semua dalam keadaan normal, sehat dan lengkap. Berat bebe udah 500gr. Kali ini saya juga dapat kesempatan buat mastiin kalau babynya CEWE!!! Yeaaaay!

Berita yang kurang asiknya kali ini cuma karena Misua sakit dan gak ikut liat keajaiban 4D yang konon jarang-jarang dilakuin ini. Trus hasil kekentalan darah saya juga kurang bagus, dari normo-aggregation ke hyper-aggregation. Jadi Ascardia pun ditambah dosisnya jadi 2x1tablet. Sisanya resep masih sama.

Buat yang pulang-pulang dari USG 4D dan masih penasaran baca hasilnya, bisa lihat di sini


2/08/2015

Tumbang di Week 21

Masuk ke minggu 21, saya dilanda batuk dan pilek yang cukup hebat. Apa mau dikata, walaupun udah dijaga supaya ga sakit, tapi dengan cuaca yg panas-hujan-panas-hujan ini akhirnya saya tumbang juga.

Puncaknya adalah dua minggu sebelum imlek, di mana curah hujan pun seperti ember air yang tumpah dari langit. Deras dan gak berhenti-berhenti siang dan malam. Awalnya tenggorokan saya yang gatel dan panas, lama-lama bersin-bersin dan batuk-batuk.

Begitu seharian penuh saya batuk pilek gak berhenti, akhirnya besoknya saya mutusin untuk gak masuk kerja dan ke internis. Buat saya yang penting, sakit kali ini gak pake demam deh. Soalnya saya tipe orang yang demam di 38°C aja, pasti udah menggigil dan seluruh badan linu gak karuan. Itu biasanya udah pake obat macem-macem. Ini apa kabar lagi hamil. Udahlah pegel-pegelnya pasti lebih berkali-kali lipat, trus obatnya juga cemen-cemen kan pastinya. Gak kebayang banget ngejalaninnya.

Bener aja, pas ke dokter ternyata katanya saya udah kena faringitis akut. Yaaa sebenernya sih bahasa manusianya radang tenggorokan, tapi emang yang udah parah. Sama dokter saya diresepin Codipront dan RhinoFed.




Sebelum saya mangap untuk tanya-tanya, dokter pun langsung wanti-wanti ke saya. "Ini obat aman untuk ibu hamil. Jadi jangan takut buat minum obat ini. Tapi pada prinsipnya bayi di dalam kandungan itu gak sakit apa-apa dan gak butuh obat apa-apa. Dia hanya butuh nutrisi dari makanan kamu. Jadi obat ini gak perlu dihabiskan. Begitu udah enakan, langsung berhentiin aja." Saya pun mengangguk ke luar ruangannya. 

Just to be save, sebelum menebus obat, saya menelpon JWCC untuk ngecek lagi obat yang akan saya konsumsi ini. Dan pihak JWCC pun memberikan lampu hijau. Tapi karena masih penasaran, waktu ngantre di kasir, lagi-lagi tangan saya gatal untuk meng-gugel obat-obat ini. Dan hasilnya cukup mengagetkan. RhinoFed memang terbilang cukup aman untuk ibu hamil. Tapi Codipront, ternyata mengandung kodein yang sebenarnya cukup keras. 

Tanggapannya pun cukup beragam. Yang pro bilang, selama diminum di bawah pengawasan dokter, artinya aman. Yang kontra bilang, kimia apa pun yang kita konsumsi selagi hamil gak bagus buat janin. Wah saya jadi dilema berat. Walaupun akhirnya saya tebus juga obatnya, saya gak langsung minum juga obat itu. Tapi karena pilek saya semakin bombastis, (di rs saya hampir pingsan karena hidung mampet dan berasa kurang oksigen) dan frekuensi batuk saya semakin merajalela (sampai perut kram dan kontraksi karena cape mengedan batuk), belum lagi gak bisa tidur semaleman karena non stop batuk, akhirnya saya menyerah dan minum obat itu juga. 

Bismillah aja, semoga obat itu lebih banyak manfaatnya untuk tubuh saya, dibanding mudaratnya.

2/01/2015

Things That the World Didn't Warn You About Being Pregnant (Part 2)

2nd Trimester

Dengan semakin banyak orang yang tau tentang kehamilan kita, maka semakin banyak juga komen-komen sotoy menyayat hati, yang menghiasi hari-hari saya. 

Dari sebelum hamil saya memang suka makanan pedas. Bahkan saat hamil pun, hanya sambal yang bisa menetralisir rasa mual saya. Cabai memang menjadi kontroversi di kalangan ibu hamil. Memang sih, perut jadi lebih sensitif dan gassy. Tapi bukan berarti cabai itu a Big No No. Selama kita gak sampai sakit perut dan diare, cabai masih aman untuk dimakan.

Jadilah suatu hari di kantor saya lagi makan makanan pedas. Tiba-tiba saja beberapa teman saya komen "Iih kok lo makan pedes sih? Emang boleh? Dulu si A waktu hamil makannya sehat banget lho. Dijaga banget... Blablabla." Ebuset, coba liat betapa gampangnya orang komen. Ini baru sih buat saya. Kalau dulu belom hamil, mungkin saya udah bisa bales omongan mereka seenak udel. Tapi sekarang, antara mual dan sensi, saya akhirnya cuma bisa bengong. Kalau saya labrak balik, saya takut bakal nangis gak penting di depan mereka. Jadi mending saya diemin dan cuek aja mengunyah.

Menginjak awal bulan keempat, tiba-tiba aja ada yang nanya "udah mulai gerak-gerak belom perutnya?" Saya jawab aja belum. Ya karena emang belum berasa apa-apa. Trus sambil ketawa-ketawa dia bilang "ih masa sih belom?! Harusnya kan 4 bulan udah berasa lho. Pasti karena kamu gemuk nih, makanya belom berasa." Padahal jelas-jelas dokter bilang kalau anak pertama, gerakan itu biasanya terjadi di usia kandungan 18-20 minggu (menjelang bulan ke5). Ya dan kalopun saya gemuk, trus perlu banget gitu dihighlight. Saya cuma bisa ngebatin "iya deh tau deh yang kurus... ciyeee..." Dan tentu saja akhirnya yang keluar dari saya cuma tawa-tawa garing sampai gigi kering. Hmppph... What a way to break the ice!

Di lain waktu, ada lagi seorang teman yang mengolok-ngolok kalau jabang bayi saya nanti bakal mirip dengan orang yang sering saya marahin di kantor. Katanya bumil gak boleh marah-marah kalo gak nanti anaknya mirip dia (yang kebetulan gay). Lalu mereka terus mendonder saya dengan topik ini sampai saya kehabisan kata-kata. Jujur, saya mau nangis banget sih saat itu. That's the rudest thing someone has ever said to me and my baby. 

1. Kenapa bawa-bawa kerjaan ke kehamilan. Apa hubungannya? Mentang-mentang saya hamil, kalau ada yang salah saya gak boleh marah gitu? Kalau gitu mendingan saya sekalian resign gak sih. Saya gak perlu marah-marah kalau ada yang salah, trus anak saya gak disumpah-sumpahin orang gara-gara saya marah. Kerjaan beres apa gak, bukan urusan saya lagi.

2. Kenapa ujung-ujungnya harus nyumpahin bayi? Trus sambil nyumpah-nyumpahin, mereka ketawa-tawa ngeliat muka saya yang pucat pasi. Buat mereka kayaknya ini lucu banget. Seakan-akan mereka emang mau nge-bully ibu hamil. Walaupun dari dulu saya gak percaya hal ini (saya yakin kalo anak mirip si A atau B itu lebih karena faktor genetik dari garis ibu atau bapaknya, dan pastinya emang karena takdir Allah SWT, bukan karena kualat pas hamil)... tapi seyakin-yakinnya saya sama prinsip itu, mana ada orangtua yang mau anaknya disumpah-sumpahin. So it still hurts.



Belum lagi di awal-awal kehamilan saya, tiba-tiba koleksi PEZ yang ada di meja saya berhilangan. Saya tau ada yang ngumpetin. Tapi apa motifnya saya juga gak tau. Mungkin bagi mereka lucu kali ngetawain kebodohan-kebodohan ibu hamil (yang katanya terjadi karena DHA terserap untuk kandungan). Mungkin saya jadi susah mikir, dan kerja lebih lama dari sebelumnya. Tapi saya tahu betul apa yang ada di meja saya. If they want me to play dumb, i will. Sudah berbulan-bulan saya gak ngegubris hal ini. Kalo emang akhirannya ilang, ya udahlah. That's not my top priority anyway. Saya lagi males buang-buang energi, karena hamilnya sendiri aja udah bikin cape.

Hari-hari saya di kantor pun mau tak mau ikut berubah. Teman-teman saya yang mayoritas belum menikah apalagi hamil, sudah mulai jarang mengajak saya makan siang. Mungkin kalau ajak saya jadi agak ribet, gak bisa makan pinggiran, duduk gak bisa umpel-umpelan dsb. Ya itu saya gak salahin mereka sih, tapi kadang jadi suka berasa alienated aja. :) Lain waktu kalau saya ikut makan ke Pasaraya (kantor saya berada di seberangnya), mereka dengan santai berjalan jauh di depan saya tanpa sedikit pun menoleh ke belakang, sementara itu saya berada 100m di belakang sambil ngos-ngosan mengejar mereka. Sekarang saya emang udah gak segesit dulu lagi dan jalan lebih hati-hati karena takut flek atau kesandung. Jadilah saya jalan sendirian mengejar ketinggalan. Dan waktu nyebrang, tiba-tiba saya sudah dikelilingin metro mini dan asap hitamnya dari segala penjuru. Mau panik tapi gak ada siapa-siapa di sebelah saya, mau gak mau saya harus tetap jalan sambil mengelak metro mini sampe berhasil nyebrang. Lagi-lagi akhirnya saya cuma bisa membatin "Jakarta emang kejam, nak. Kita gak bisa ngarepin orang lain. Makanya kita harus kuat."

Masih banyak sih kejadian-kejadian ajaib yang saya alamin selama hamil. Tapi yang di atas ini adalah beberapa yang cukup membekas di hati saya. Hehehe. Banyak juga sebenarnya yang baik kepada saya. Tapi lebih banyak lagi yang cuek dan sadis-sadis hahaha. Mungkin saya aja yang kelewat sensi selama kehamilan ini (dengan tingkat sensi setaraf 100x PMS), tapi mungkin juga habitat kerja saya ( mayoritas anak muda dan belum kawin), emang kurang bersahabat buat ibu hamil.

Tapi intinya kenapa akhirnya saya menumpahkan semua ini dalam bentuk tulisan, karena saya juga concern sama perkembangan psikologi anak saya. Saya takut kalau saya terlalu banyak memendam saat hamil, akan berpengaruh kepada mood bayi saya juga nantinya. Sementara kalo saya marah-marah ke orang-orang ini, mereka gak akan ngerti, and they will judge me even more. Mudah-mudahan dengan begini saya bisa lebih 'legowo' dan gak mendendam ke siapa-siapa. Remember, what matters most is the pregnancy itself, period.

Dan mudah-mudahan tulisan ini bisa jadi pengingat juga buat saya, kalau nanti-nanti lagi gak dalam keadaan hamil, supaya gak jahat-jahat amat sama bumil. :')

Things That the World Didn't Warn You About Being Pregnant (Part 1)

Di dunia yang serba canggih ini, rasanya gak susah buat nyari informasi apa pun tentang kehamilan. Mulai dari yang paling basic kayak perkembangan janin, makanan yang boleh dan enggak boleh, tips untuk dapetin bayi cewe/cowo, sampe foto baby bump yang unik-unik. Macem-macemlah infonya.

Tapi dari sekian banyak info, saya malah jarang nemuin tulisan yang ngebahas tentang perasaan bumil against the world. Dan saya pun, di kehamilan ini berasa off guard dan kecolongan banget dalam mengatasi masalah ini.

1st Trimester

Banyak orang yang belum tau tentang kehamilan saya. Tapi sebenarnya banyak banget yang sedang terjadi di tubuh. Dan salah satunya yang terbesar adalah perubahan hormon. 

Saya masih terlalu disibukkan sama mual-mual sepanjang hari. Saat itu saya berasa ringkih banget secara fisik. Di kantor saya gak bisa mikir sama sekali, karena kalo ga mual, saya ngantuk gila-gilaan. Makan pun jadi gak selera. Kalo orang-orang banyak ngidam di kala ini, saya justru gak pengen apa-apa. Ngebayangin makanannya aja udah bikin eneg, apalagi nyium baunya. Belum lagi posisi kubikel saya yang bersebelahan dengan pantry. Beugh. Saya banyak banget ngebuang-buang makanan di masa ini, karena waktu beli gapapa tapi pas mau dimakan ga bisa masuk. Ya udah deh apa boleh buat. (Maaf ya, Tuhan). 

Di weekend pun saya berusaha untuk banyakin istirahat. Tapi tiap kali cuma rebahan doang di kamar, rasa mual pun menjadi-jadi. Kalau jalan-jalan ke mall, rasanya emang enakan karena mungkin banyak distraction. Tapi kan saya juga masih belom boleh jalan terlalu banyak. Pernah sekali waktu saya jalan di mall sejam penuh (walaupun pelan-pelan banget) abis itu perut agak kram dan flek cokelat muncul lagi. Langsung saya minum Salbron yang diresepin dokter kalo perut kontraksi/kram. Untungnya gak berkepanjangan. Hal itu jadi penanda buat saya kalo badan saya gak sama kayak dulu yang cenderung badak. Jadi musti lebih hati-hati dan inget-inget kalo lagi hamil. 

Tapi gara-gara semua ini, saya pun jadi semakin sensi. Karena yang biasanya saya bisa mandiri, sekarang jadi sangat bergantung orang. Dan ketika orang itu gak bisa diandelin, rasanya sediiiih banget. Kadang waktu di rumah saya haus dan air di lantai 2 sudah habis, sementara saya juga belom berani naik turun tangga terus-terusan. Akhirnya saya turun juga sambil menitikkan air mata... Pernah juga waktu itu pulang kantor, Misua ada acara di kantor lamanya, akhirnya saya harus pulang naik taksi sendirian. Walaupun biasanya saya sering juga pulang sendirian, tapi kali ini rasanya sediiih sekali... hahaha... Kalau udah gitu biasanya saya membatin sambil ngobrol sama yang di dalem perut "Gapapa ya nak. Kita jadi orang harus bisa mandiri. Jangan pernah mengharap bantuan orang lain. Kita harus kuat. Kalau kuat insya Allah kita bisa ngelewatin semuanya". Saya rasa itulah pelajaran pertama yang saya ajarkan pada bakal anak saya ini :').



Karena curhatan saya lumayan panjang, saya bagi di dua post aja ya :P
Silakan baca yang part 2 kalau masih kuat haha.