12/22/2014

Entering the Second Trimester

Efektif begitu masuk ke trimester 2, banyak banget perubahan yang saya alami. kandungan tiba-tiba aja berasa lebih kuat dari sebelumnya. Yang biasanya langsung berasa ngilu kalau kena polisi tidur dan lobang jalanan, sekarang gapapa. Mual yang selama 3 bulan terakhir ini terus menghantui sepanjang siang dan malam, sekarang tiba-tiba ngabur entah ke mana (walaupun kadang suka muncul lagi sih seenak-enak dia). Tapi gara-gara itu, nafsu makan pun semakin membaik. Kadang saking keenakannya saya suka lupa kalo lagi hamil. Soalnya tanda-tanda hamil itu tiba-tiba gak saya rasain. Apalagi berat badan baru naik sekilo dua kilo, dan gerak bayi juga masih belum berasa. Makanya saya dan mual itu jadi kayak love and hate relationship hahaha. Kalo ada pengen diilangin cepet-cepet, kalo ga ada malah dicariin. Sesekali kalo mual itu tiba-tiba datang, akhirnya malah saya nikmatin (walaupun muka udah gak beres bentukannya). Karena selain pas USG ke dokter, saya gak tau apalagi indikasi kehidupan di dalam rahim saya itu kecuali mual dan gerakan janin (yang kata dokter baru akan benar-benar terasa di usia 18-20 minggu).

Kelar Trimester pertama, berita pun sudah sengaja saya sebar ke orang-orang. Masa yang paling rawan sudah terlewati, rasanya udah aman untuk nyebarin berita baik ini ke orang-orang. Kebetulan kantor saya harus pergi ke Bali untuk team building. Semua orang pun heran kenapa saya gak ikut. Jadi sekalian aja diumumin kalo saya gak bisa ikut karena lagi hamil. LEGA DEH... Karena selama ini saya masih menutup rapat-rapat kehamilan ini. Bukannya gak mau nyebar berita baik, tapi di kehamilan kali ini saya mau santai-santai aja. Gak mau bikin orang lain kegirangan dulu sementara saya sendiri gak pede sama keadaan diri sendiri. Istilah kata 'managing expectation'. Kalau ternyata di tengah-tengah ada kendala, saya jadi gak merasa bertanggung jawab untuk menjelaskan ke orang kenapa begini dan kenapa begitu. Apalagi tau sendiri orang kadang suka asal nyeplos, tapi lupa mikirin perasaan kitanya. 

Iya, saya emang sangat melindungi perasaan saya di kehamilan ini. Dan apalagi dengan riwayat kehamilan saya sebelumnya, kali ini saya gak mau kepedean yakin kalo semua pasti baik-baik aja. Sekarang saya lebih fokus ke perkembangan janin sesuai dengan jadwal pertemuan dokter. Satu per satu tahap itu dijalani secara santai, dan alhamdulillah sampai hari ini semua berjalan lancar. Itu aja yang penting buat saya.

Btw ini hasil USG di week 14. Tulang belakangnya udah keliatan hihihi...



12/06/2014

a 3D overview

Masuk ke minggu ke 12, saya dijadwalkan bertemu dr. Robert untuk melakukan USG 3D. Hal ini dilakukan supaya jika ada kelainan di kehamilan bisa dideteksi sejak dini.




Tampilan USG 3D juga masih berupa layar hitam putih. Tapi visual tampak lebih akurat dan pergerakan janin juga lebih jelas terlihat. Saya terharu gila-gilaan waktu melihat janin di dalam rahim saya ternyata lagi loncat-loncat dengan aktifnya. Padahal usianya baru menginjak 12 minggu dan saya belum merasakan gerakan apa pun di perut saya. Bentuknya pun semakin mirip seperti bayi. Dan biarpun jari-jari mungilnya belum terlihat jelas, tapi tangan dan kakinya sudah mulai bergerak-gerak dengan lincah. Dua titik hitam di wajahnya sudah menyerupai mata. Dan ada sebuah garis putih mungil menjulang di wajah yang menandakan itu tulang hidungnya. Dan yang terpenting, sebuah titik kecil yang terus berkedip di bagian dadanya, yaitu jantung. Inilah pertama kali saya dan Misua mendengarkan detak jantungnya. Kehamilan ini semakin terasa nyata. :')

Kali ini dr. Robert memeriksa dengan lebih seksama. Ia mengukur beberapa faktor indikasi seperti lingkar kepala (BPD), ketinggian tulang hidung, panjang janin (CRL) dan ketebalan leher belakang (NT). Ukuran-ukuran ini bisa mendeteksi apabila janin memiliki kecenderungan down syndrome atau tidak. Dan apabila ukuran tidak sesuai dengan semestinya, maka perlu dilakukan tes lebih lanjut yaitu pengambilan sampel air ketuban (CVS). Alhamdulillah, semua dalam keadaan normal. 

Minggu ini juga menandakan akhir dari trimester pertama saya.

Kalau ingin tahu apa saja yang harus diperhatikan ketika USG, bisa baca-baca di sini.


Resep dokter:

Asam Folat 1x1
Ascardia 1x1
Folamil 1x1

Cygest & Duphaston distop karena masa rawan sudah terlewati dan diganti dengan multivitamin Folamil untuk melengkapi nutrisi di trimester 2

11/24/2014

My First Trimester




Dr. Andi cukup serius menangani kehamilan saya. Setiap 10 hari saya harus cek kandungan ke beliau. Dan semua pun dipantau dengan seksama tanpa terburu-buru.

Di minggu ke 7 alhamdulillah saya sudah bisa melihat janin saya walaupun masih berupa gumpalan kecil saja.

Minggu ke 8, janin terlihat lebih besar dari sebelumnya. Dan sekarang ada sebuah titik yang berkedip-kedip tanda jantung sudah berfungsi. Subhanallah. Itu merupakan sebuah tanda bahwa janin di dalam rahim saya itu hidup dan berkembang. Sesuatu yang belum pernah saya rasakan sebelumnya.

Beberapa hari setelah dari dokter, saya sempat naik turun tangga di basement kantor. Dan sehabis itu saya masih harus meeting lagi sampai jam 7 malam dengan posisi duduk yang kurang nyaman. Sewaktu ke toilet sebelum pulang, saya agak syok melihat flek berwarna kecoklatan di celana dalam saya. akhirnya saya telpon no. emergency klinik. Dan waktu itu suster bilang kalau flek yang terjadi di usia kandungan 8 minggu itu tergolong normal, selama bukan berwarna merah segar. Kemungkinan besar itu akibat penempelan janin di dinding rahim (pardon my lame biology knowledge), saya pun akhirnya ngangguk-ngangguk aja. Suster bilang untuk terusin obat dari dokter, karena hampir semua yang dokter kasih itu adalah penguat kandungan dan disarankan bed rest selama 3 hari. Tapi kalau flek masih berulang apalagi sampai ada darah segar, saya harus segera menghubungi mereka supaya bisa segera ditindak lanjuti.

Alhamdulillah karena semua berjalan lancar, dokter pun akhirnya merentangkan masa kunjungnya dari setiap 10 hari sekali menjadi setiap 2 minggu sekali. Hal ini adalah berita bagus banget buat saya, karena selain artinya semua baik-baik saja, dompet pun bisa agak bernapas walaupun cuma beda beberapa hari saja. Ffiiiuh.

Di minggu 12, saya dijadwalkan untuk melakukan USG 3D untuk mendeteksi dari awal apabila ada kelainan-kelainan pada kehamilan. Untuk melakukan ini saya dirujuk ke dr. Robert (juga praktek di JWCC). Sehabis itu hasil USG dibawa ke dr. Andi untuk dibacakan hasilnya.

Resep dokter:

Cygest 1x1
Duphaston 3x1
Asam Folat 1x1
Ascardia 1x1

Rovamycin distop karena hasil Tokso negatif

10/31/2014

Take it One Day at a Time

Setelah beberapa hasil test pack yang positif dan pertemuan dengan Bunda Diah, sekarang saatnya mengkonfirmasi semua itu dengan bertemu dokter kandungan. Nah inilah part yang agak tricky. Karena kehamilan ini sudah ditunggu lama, pilihan dokter kali ini bukan lagi berdasarkan dokter yang ramah dan ngemong seperti dokter di kehamilan saya sebelumnya. Tapi kita justru mencari dokter yang cukup serius menangani kehamilan yang kemungkinan beresiko seperti saya.

Di dalam pikiran kita, tak ada kandidat lain selain dr. Andi Hudono, yang kebetulan dokter terakhir yang kita datangi untuk melakukan program. Tarif beliau memang jauh di atas rata-rata dokter yang ada. Tapi demi menjaga janin ini seoptimal mungkin, apa pun kita lakuin. :)



Hasil pemeriksaan dr. Andi cukup melegakan. USG menunjukkan adanya kantong walaupun janin masih belum terlihat. Dari perhitungan hari pertama haid terakhir dan hasil USG, bisa diperkirakan kandungan berusia 6 minggu.

Rata-rata kandungan berusia 6 minggu memang belum kelihatan janinnya. Jadi semua masih dalam keadaan normal. Dokter menyuruh kita kembali lagi 10 hari kemudian untuk melihat perkembangannya. Sementara itu dia meresepkan banyak obat dan vitamin serta tes darah untuk kembali mengecek toksoplasma yang sebelumnya masih berada di grey area dan kekentalan darah. Hasil kekentalan darah bisa dilihat setelah satu hari. Dan hasilnya masih cenderung kental. Sementara hasil Tokso baru bisa dilihat setelah 4-5 hari, jadi sementara itu saya harus tetap meminum obat tokso untuk pencegahan.


Resep Dokter:
Cygest 1x1 (progesteron, penguat kandungan)
Duphaston 3x1 (penguat kandungan)
Asam Folat 1x1 (pertumbuhan sel otak)
Ascardia 1x1 (pengencer darah)
Rovamycin 3x1 (toksoplasma)

Obatnya memang banyak dan bahkan ada yang harus dimasukkan lewat vagina. Harganya apalagi... jangan tanya hahaha. Tapi lebih baik begini, saya dan Misua pun lebih tenang. :) Lagi-lagi kita gak mau over-excited seperti kehamilan yang dulu dan ternyata malah berakhir dengan gak enak. Sekarang semua tahap kita jalani satu per satu sampai semua terasa aman. Berita ini pun belum kita announce ke siapa-siapa kecuali ke keluarga inti.

Selain itu hanya bos-bos saya saja yang langsung saya beritahu begitu pulang dari dokter. Ada 2 business trip dan 1 on going project yang bebannya cukup berat, yang harus saya lakukan dalam waktu dekat. Dengan keadaan seperti ini, pastinya saya belum bisa travelling by plane dan lembur-lembur terlalu berat. Dan alasan apa lagi yang paling tepat selain jujur sejujur-jujurnya. Lagipula kehamilan ini penting banget buat saya karena kesempatannya gak datang setiap hari. Gak ada salahnya saya minta didukung di masa-masa seperti ini. :)

10/25/2014

When God Works in a Mysterious Way :')

Setelah 2x pertemuan dengan Bunda Diah, gak kerasa saya udah mulai masuk lagi ke periode haid. Tapi entah kenapa haid saya gak kunjung datang. Dan walaupun saya rutin ke Bunda, dia juga gak ngomong apa-apa, cuma pernah sekali bergumam "hmmm... kok aku gak bisa 'liat' telornya ya?". Saya waktu itu sih emang ga curiga apa-apa. Karena kan haid gak teratur emang udah jadi langganan saya. Bisa jadi ini emang salah satunya. Jadi saya cuekin aja, walau diam-diam terus memantau.

Sehari, dua hari, tiga hari, sampai seminggu saya juga belum haid. Iseng saya bilang Misua... dia pun langsung bilang "Jangan-jangan kamu hamil". Tapi saya duluan yang akhirnya in denial trus bilang "gak lah... baru juga telat seminggu. Lagian kan pertama kali kita dipijet pas masa subur itu, telornya masih kecil-kecil".

Akhirnya setelah sabar nunggu sampe 2 minggu, saya iseng test pack. Dan gak disangka-sangka ternyata hasilnya positif. ALHAMDULILLAH. God surely works in mysterious ways. Karena udah menunggu keajaiban ini setelah sekian lama, mungkin hati kecil saya butuh penjelasan. Tapi kali ini saya bener-bener gak nemu jawabannya. Bisa jadi ini karena tangan ajaib Bunda, tapi yang pasti semua ini karena kebesaran Allah SWT. Akhirnya saya cuma bisa bersyukur terus-terusan dan menganggap semua ini sudah jalannya. Alhamdulillah rezeki yang selama ini kita tunggu-tunggu akhirnya datang juga.



Untuk meyakinkan, saya coba test pack lagi sampai beberapa kali. Dan semua hasilnya positif. Waktu akhirnya ke Bunda lagi, dia masih tetap bungkam. Baru setelah saya selesai pijat, saya akhirnya bilang ke dia "Bun aku kok test pack positif ya Bun?" Dan dijawab dengan santai sama dia "ya bagus dong positif. Orang positif mah seneng, kamu malah bingung" hahahaha. Trus dia lanjutin "iya aku emang udah curiga pas nyariin telornya kok ga ada. Ternyata udah meluncur. Sekarang udah ada nih (mungkin maksudnya bakal janinnya) tapi bentuknya baru titik doang. Kemungkinan 5 minggu. Tapi yang penting kamu sekarang ke dokter dulu."

Sukanya saya sama Bunda adalah, dia juga bukan tipe orang yang suka mengobral janji. Dia lebih suka kalo kita tetep ke dokter supaya opini dia bisa dikroscek setiap saat. Sementara itu dia akan membantu dengan cara dia sendiri.

Alhamdulillah penantian selama ini membuahkan hasil. Karena saya punya riwayat kurang baik, saat ini saya gak mau terlalu senang dulu dan memilih untuk menjalani semua ini pelan-pelan dan santai. Semoga gak ada kejutan aneh-aneh di tengah jalan dan semuanya berjalan lancar sampai waktu lahiran nanti. Amin.


9/20/2014

Pertemuan dengan Bunda Diah

Walaupun belum tau ada pengaruhnya atau engga... saya mencoba menyontek prosedur program ke dokter, ketika datang ke Bunda Diah. Hehhe... Iya, saya sengaja datang ke sana kira-kira seminggu sebelum masuk ke perkiraan masa subur saya. Kurang lebih di H+7 setelah haid. Jadi kalau emang logika 'mematangkan telurnya' sama dengan cara medis, kita gak perlu menunggu siklus berikutnya untuk mulai mencoba. Yaaa siapa tau aja kan yaa...

Jujur, walaupun banyak yang merekomendasikan Bunda ke saya, tapi rata-rata mereka bukan pasien langsung Bunda. Biasanya mereka dapat info dari temannya teman, kakaknya teman dsb. Jadi ketika saya tanya apa yang sebenarnya dilakukan di sana, berapa harganya, di mana lokasi persisnya, ga ada yang bisa jawab :P. Bahkan jawaban itu pun gak berhasil saya dapetin dari mbah Google. Akhirnya karena udah tekad bulat, saya telpon aja rumahnya. Dari lawan bicara saya, dia bilang ini benar rumah bunda Diah, besok (Sabtu) dia praktek dari jam 7 pagi sampai jam 12 siang. Biayanya seikhlasnya aja. Lokasi di kompleks Depsos.

Besoknya gak pake mandi kita langsung meluncur ke sana. Selain ogah rugi sama waktu tidur, kita pikir kalau nanti dipijet dan jadi lengket-lengket gitu kan mending mandinya sekalian ntar aja :P. Untung aja lokasinya yang di kompleks Depsos masih deket dari rumah. Gak nyampe 1/2 jam kita udah sampe. Dan terima kasih atas kecanggihan teknologi Google Maps (walaupun sempet nyasar dikit karena terkecoh sama jalan-jalan setapak) sampailah saya dan Misua di sana tanpa banyak hambatan yang berarti.

Dari tipe kompleksnya yang agak sempit jalanannya, kayaknya emang gak mungkin untuk parkir persis di depan rumahnya. Jadi akhirnya kita parkir di sebuah lapangan di seberang masjid. Lalu jalan kaki (sekitar 300m) dan sampailah kita di rumahnya. Tapi ternyata pas sampai di sana... rumahnya digembok dan gak ada orang... Gubrak hahahhaa... Mau tanya kanan kiri pas lagi ga ada orang. Telpon rumahnya gak ada yang jawab. Sempet ragu juga kita salah rumah... ah tapi bener kok alamatnya. Ya udah dengan berat hati pulanglah kita dengan tangan hampa. Mau marah juga bingung marah sama siapa... hahahaha. Untuk menghibur hati kita sarapan di pasar modern sektor 9... lalu pulang dan melanjutkan tidur.

Karena emang udah niat banget, minggu depannya gak pake kapok kita datengin lagi rumah Bunda. Minggu ini sebenarnya udah masuk masa subur saya. Bisa jadi udah telat kalo mau mematangkan telur di siklus ini. Tapi ga papalah... Mungkin emang gak boleh buru-buru juga. Beda dari minggu sebelumnya, kali ini dari jauh udah keliatan orang-orang berdiri di luar rumahnya. Di teras juga keliatan beberapa orang duduk di kursi yang tersedia, sementara pas saya ngintip ke dalem lebih banyak lagi ibu-ibu dan anak-anak yang duduk di bawah. Sementara di ujung ruangan saya melihat seorang wanita berkaca mata dan berambut cepak sedang memijat. "Hhmm... sepertinya itu tuh yang namanya Bunda." pikir saya dalam hati.

Sebenernya saya bingung banget sih di situ harus ngapain. Gak ada nomor antrean, gak ada line antrean, atau petunjuk apa pun tentang ngantre. Untungnya (masih rezeki juga alhamdulillah) tiba-tiba aja ada orang yang baru saja selesai dipijat dan keluar dari dalam rumah. Dan ternyata dia adalah teman kuliah saya! Perutnya pun sudah buncit dengan kandungan berusia 6 bulan. Dia pun bercerita kisah suksesnya datang ke Bunda dan dia juga memberi banyak tips tentang apa yang harus dilakukan ketika di sana. Saya juga baru tau kalau yang dipijat itu hanya kaki, tangan dan pundak (bukan perutnya)... dan yang dipijat itu bukan hanya istrinya tapi juga suaminya. Saya juga baru tau kalau bayarnya harus dimasukin amplop dulu dan dikasih ke bunda langsung ketika selesai pijat. Untung di mobil ada stok amplop! (langsung buru-buru saya suruh Misua ambil) hahhaa. Dan yang terpenting masalah antrean... Ternyata kuncinya cuma bertanya siapa yang terakhir sebelum kita, karena artinya giliran kita adalah setelah orang itu. Mau duduk di mana pun bebas, selama kita ingat siapa orang sebelum kita.

Alhamdulillah dengan bekal itu saya pun makin pede untuk pijat. Antreannya memang lumayan menguji kesabaran. Karena ternyata orang yang datang bukan hanya sepasang suami istri seperti saya dan Misua. Tapi kadang ada yang datang berbondong-bondong dari Bapak, Ibu, Kakak, Adik, bahkan sampai Ibu Mertua.

Ketika tiba giliran saya, yang pertama kali Bunda lakukan adalah meraba ankle kaki saya. Mungkin itulah cara dia 'membaca tubuh saya'. Tapi begitu pun dia tetap bertanya rekam medis saya. Setelah itu dia membenarkan kalau saya memang menderita PCOS dengan telur yang kecil- kecil. Dia juga menebak kalau saat itu adalah masa subur saya. Dia juga bilang kalau saya ada Tokso dan ada kecenderungan darah kental. Lalu dia pun bilang kalau "ini kita siapin dulu ya, supaya bulan depan bisa mulai diprogram". Benar dugaan saya, ternyata logika mematangkan telurnya juga gak terlalu berbeda dari dokter walaupun mungkin caranya pastilah berbeda. Kalau masalah sakit atau enggaknya, saya gak bisa jawab, karena tiap orang kan berbeda-beda tergantung penyakit yang diderita dan seberapa besar toleransinya terhadap rasa sakit itu sendiri. Kalau buat saya pribadi, untuk di awal pertemuan ini, sakitnya memang luar biasa, walaupun saya gak sampai menjerit-jerit seperti salah satu pasien di sana. Pulang pun menyisakan memar biru di pangkal paha dan lengan. But it's all worth it :)

Pertemuan dengan Bunda memang cukup berkesan. Saya jarang berobat alternatif, jadi memang kadang agak takut karena gak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan di sana. Tapi ternyata sosok Bunda memang jauh dari kesan mengerikan. Dia malah lebih terlihat seperi ibu rumah tangga pada umumnya. Pembawaannya santai banget. Sesekali neriakin anaknya supaya gak lupa masukin gula atau garem ke masakan. Sesekali ngobrolin hobi bersepedanya yang biasa ditempuh sampai ke Bogor atau Ancol sama teman-temannya. Sesekali cerita tentang pasiennya yang lain dengan istilah-istilah kedokteran yang cukup luas. Banyak banget pengetahuan yang kita dapat sambil dipijat dia. Gak ada tuh bau menyan atau asap-asap aneh atau sajen yang selama ini saya bayangkan tentang pengobatan alternatif hahahaha. Cuma dia dan body lotionnya, untuk bantu melincinkan pijatannya aja. Alhamdulillah saya dan Misua dapetin 'chemistry'nya sama beliau. Kita 'feel good' datang ke dia dan insya Allah ini awal yang baik dan membuka energi positif bagi kita.



9/06/2014

Tentang Bunda Diah

Walaupun kita memutuskan untuk berhenti ke dr. Andi, tapi hati kecil saya sebenarnya justru gak mau berhenti di sini aja. Saya merasa saya lagi punya semangat dan energi positif yang sayang banget buat disia-siain. Emang sih biar gimana pun juga kita harus realistis dengan keadaan. Tapi semangat itu juga bukan hal yang bisa datang begitu saja. Saya malah takut kalau berhenti sekarang, nanti kita lagi-lagi malah keenakan dan membuang-buang waktu yang ada. Sementara, usia produktif saya pun semakin di ambang-ambang.

Makanya atas anjuran teman (yang sebenarnya udah merekomendasikan ini dari beberapa tahun yang lalu) saya membulatkan tekad untuk datang ke bunda Diah, seorang terapis pijat alternatif.

Cerita mundur sedikit... Sebenarnya saya memang udah lama banget ingin datang ke beliau. Seenggak-enggaknya dalam rangka berusaha, saya mau untuk mencoba cara apa saja agar bisa hamil. Soalnya saya percaya sih rezeki bisa datang dari mana aja. Jadi kan siapa tau ya... Tapi sayangnya waktu itu Misua kayaknya belum begitu sreg untuk pergi ke sana. Selain karena dia orangnya sangat logis, dia juga mungkin masih penasaran sama dokter. Memang sih kita waktu itu kita memang belum benar-benar serius menjalani program ke dokter. Jadi saya pikir ya udahlah... gak ada salahnya mencoba ke dokter dulu sampai puas sebelum datang ke beliau. Lagipula pengobatan alternatif itu kan faktor sugestinya juga sangat besar. Kalau salah satu dari kita gak yakin ya bakal percuma juga.

Tapi berbeda dengan dulu, situasi kita kali ini memang sedikit berbeda. Kita sudah mencoba program di dokter sampai tabungan kita habis. Selain itu kita juga udah gak punya lagi luxury berupa waktu yang dulu sering kita pakai sebagai alasan... "yaaa masih ada waktulaah...". Makanya ketika akhirnya saya bilang saya mau datang ke Bunda Diah, kali ini Misua pun gak banyak komen dan mengangguk saja.

8/31/2014

Terapi Hormon dengan dr. Andi

Saya kembali ke dr. Andi di H+3 menstruasi untuk mengecek keadaan telur saya. Walaupun haid saya sudah teratur selama beberapa bulan belakangan ini, ternyata telur saya masih kecil-kecil. Jadi untuk mempersiapkan kematangan telur, saya diberi obat Dipthen yang harus diminum 1x5 hari ke depan untuk mematangkan telur saya. Ya, Dipthen adalah salah satu bentuk terapi hormon. Tapi saya pun sudah pasrah dengan segala resikonya termasuk jadi semakin gemuk lagi. :') Selain itu saya juga dikasih Ovacare dan Asam Folat.

Dari perhitungan masa subur dokter, saya dijadwalkan untuk kembali di H+10 untuk melihat perkembangan telur. Waktu dilihat, telur saya memang membesar, tapi memang belum sampai tahap maksimalnya. Tapi dari situ perkiraan masa subur semakin bisa diprediksi. Agar memperbesar kemungkinan, saya dan Misua pun diberi beberapa tanggal untuk berhubungan. Jika saya terlambat haid sampai 2 minggu, dianjurkan untuk langsung test pack. Tapi jika haid, diminta untuk kembali lagi di H+3 untuk mengulang lagi prosedur tadi.

Sudah sampai mengulang 3x siklus, tapi sayangnya usaha ini masih belum membuahkan hasil. Saya pun sudah mulai gelisah. Langsung kebayang-bayang tahap selanjutnya yaitu inseminasi ataupun IFV. "Gimana ya kalo abis ini dokter nganjurin untuk inseminasi? Berapa persen ya kemungkinan berhasilnya? Kalau gak berhasil trus gimana?" Banyak banget pertanyaan yang berputar-putar di kepala saya. Maklum, secara finansial saya memang belum siap untuk melakukan itu semua. Kalaupun duitnya diada-adain, kita tetap merasa belum siap mental untuk menerima hasilnya.

Akhirnya sambil setengah galau, saya memutuskan untuk mencoba satu siklus lagi dengan dr. Andi. Kalau kali ini belum berhasil juga, saya dan Misua memutuskan untuk kembali beristirahat dan mulai menabung lagi. Biar gimana pun juga kan kita harus realistis dengan keadaan yang ada.

Di H+3 saya kembali diresepkan dengan Dipthen, Ovacare dan Asam Folat. Di H+12 saya disuruh datang untuk mengecek kematangan telur. Saat itu, satu telur saya berukuran 14mm dan yang satu lagi 11mm. Lain dari siklus-siklus sebelumnya, kali ini dokter menyuntik saya dengan Gonal F di perut. Saya tahu Gonal F itu adalah salah satu jenis suntik hormon, Tujuannya pun masih sama dengan Dipthen yaitu untuk memaksimalkan ukuran telur. Setelah itu saya juga diberi Ovutest selama 5 hari untuk lebih akurat mengetahui masa subur saya.

Sayangnya, setelah melakukan semua prosedur di atas, ternyata saya masih haid juga. Yah namanya juga usaha... hehehe... Walaupun akhirnya saya berhenti ke dr. Andi, tapi untungnya saya masih belum kehilangan semangat. Mungkin memang waktunya belum tiba aja. :)





2/28/2014

Memulai lagi dengan dr. Andi Hudono

2013 bisa dibilang tahun yang paling produktif buat saya. Sayangnya bukan produktif dalam baby program tapi lebih ke pekerjaan kantor. Kalo dihitung-hitung dalam satu tahun saya melakukan 16 produksi mulai dari TVC thematic, promo sampai filler. Lokasinya pun gak disangka-sangka benar-benar bervariasi dari Jepang, Bangkok, GBK, bahkan sampai ke dusun kecil di pelosok pinggiran kota Yogyakarta. Belum lagi di tahun ini saya juga bisa jalan-jalan ke Eropa lewat outing kantor. Jadi sementara saya dan Misua kembali mencoba dengan cara alami, saya (lagi-lagi) berusaha 'menyelam sambil minum air', atau dengan kata lain menikmati apa yang hidup tawarkan di depan mata :).

Jadilah gak kerasa satu tahun sudah terlewati. Melihat ke tahun 2013, rasanya gak ada yang perlu disesali. Saya merasa semua itu masih merupakan bagian dari rencana Tuhan. Alhamdulillah. Tapi agar tak terlena oleh waktu, di awal tahun 2014 saya dan Misua memutuskan untuk kembali ke dokter. Kali ini, berkat rekomendasi beberapa orang teman, kami datang ke dr. Andi Hudono di JWCC.

Dia adalah rekanan seorang profesor yang praktek di NUH Singapore bagi mereka yang ingin melakukan IVF program di sana. Walaupun kata IVF masih jauh sekali dari bayangan, tapi kali ini saya ingin lebih serius lagi menjalankan program. Batas aman melahirkan di usia 35 tahun membuat saya semakin sadar bagaimana sebenarnya kita sangat berpacu dengan waktu. Usaha yang dilakukan pun harus lebih jelas lagi.

Kita memulai semuanya dari awal lagi dengan dokter ini. Untungnya tes-tes yang selama ini sudah saya lakukan gak perlu diulang lagi. Dia hanya memantau lewat USG TV untuk mengkonfirmasi PCOS saya. Melihat riwayat kehamilan saya yang pernah gak berkembang, dia menganjurkan untuk tes kekentalan darah dan TORCH. Kebetulan dua tes itu belum pernah saya lakukan.

Ternyata betul saja, darah saya memang cenderung kental dan sepertinya saya pernah terkena tokso walaupun sekarang dalam keadaan tidak aktif. Sementara itu untuk Rubella, walaupun negatif, itu artinya tubuh saya belum memiliki imunitas terhadap virus ini.

Berdasarkan hasil itu, untuk memulai program hamil, dokter memberikan Rovamycin yang harganya sangat mahal dan tabletnya sangat besar :( . Hal ini dilakukan agar resiko kemunculan Tokso pada saat hamil nanti bisa ditekan. Sementara untuk Rubella, dokter mencegahnya dengan cara vaksin. Karena biar bagaimanapun lebih baik mencegah kan daripada mengobati. Sayangnya dengan vaksin Rubella ini, saya harus menunda program hamil selama 3 bulan. Karena selama badan saya membentuk imunitas terhadap Rubella, saya tidak boleh hamil. Agak sedih sih karena harus menunda lagi... tapi untuk mengurangi faktor resiko, kayaknya lebih baik begini. Sementara itu dengan darah saya yang cenderung kental, dicurigai menjadi salah satu faktor penyebab janin saya gak berkembang saat itu. Kata dokter kekentalan darah itu, jika levelnya belum parah, mungkin gak terlalu mengganggu aktivitas sehari-hari kita, tapi jika terjadinya di kehamilan, bisa menghambat nutrisi ke janin dan mengakibatkan janin gak berkembang. Saat ini kekentalan darah saya memang belum perlu ditindak lanjuti. Setelah masa tunggu 3 bulan, dokter baru akan fokus ke terapi hormon untuk membesarkan telur saya.

Program ini memang mengajak saya untuk lebih mengenal tubuh saya. Alhamdulillah.