2/28/2014

Memulai lagi dengan dr. Andi Hudono

2013 bisa dibilang tahun yang paling produktif buat saya. Sayangnya bukan produktif dalam baby program tapi lebih ke pekerjaan kantor. Kalo dihitung-hitung dalam satu tahun saya melakukan 16 produksi mulai dari TVC thematic, promo sampai filler. Lokasinya pun gak disangka-sangka benar-benar bervariasi dari Jepang, Bangkok, GBK, bahkan sampai ke dusun kecil di pelosok pinggiran kota Yogyakarta. Belum lagi di tahun ini saya juga bisa jalan-jalan ke Eropa lewat outing kantor. Jadi sementara saya dan Misua kembali mencoba dengan cara alami, saya (lagi-lagi) berusaha 'menyelam sambil minum air', atau dengan kata lain menikmati apa yang hidup tawarkan di depan mata :).

Jadilah gak kerasa satu tahun sudah terlewati. Melihat ke tahun 2013, rasanya gak ada yang perlu disesali. Saya merasa semua itu masih merupakan bagian dari rencana Tuhan. Alhamdulillah. Tapi agar tak terlena oleh waktu, di awal tahun 2014 saya dan Misua memutuskan untuk kembali ke dokter. Kali ini, berkat rekomendasi beberapa orang teman, kami datang ke dr. Andi Hudono di JWCC.

Dia adalah rekanan seorang profesor yang praktek di NUH Singapore bagi mereka yang ingin melakukan IVF program di sana. Walaupun kata IVF masih jauh sekali dari bayangan, tapi kali ini saya ingin lebih serius lagi menjalankan program. Batas aman melahirkan di usia 35 tahun membuat saya semakin sadar bagaimana sebenarnya kita sangat berpacu dengan waktu. Usaha yang dilakukan pun harus lebih jelas lagi.

Kita memulai semuanya dari awal lagi dengan dokter ini. Untungnya tes-tes yang selama ini sudah saya lakukan gak perlu diulang lagi. Dia hanya memantau lewat USG TV untuk mengkonfirmasi PCOS saya. Melihat riwayat kehamilan saya yang pernah gak berkembang, dia menganjurkan untuk tes kekentalan darah dan TORCH. Kebetulan dua tes itu belum pernah saya lakukan.

Ternyata betul saja, darah saya memang cenderung kental dan sepertinya saya pernah terkena tokso walaupun sekarang dalam keadaan tidak aktif. Sementara itu untuk Rubella, walaupun negatif, itu artinya tubuh saya belum memiliki imunitas terhadap virus ini.

Berdasarkan hasil itu, untuk memulai program hamil, dokter memberikan Rovamycin yang harganya sangat mahal dan tabletnya sangat besar :( . Hal ini dilakukan agar resiko kemunculan Tokso pada saat hamil nanti bisa ditekan. Sementara untuk Rubella, dokter mencegahnya dengan cara vaksin. Karena biar bagaimanapun lebih baik mencegah kan daripada mengobati. Sayangnya dengan vaksin Rubella ini, saya harus menunda program hamil selama 3 bulan. Karena selama badan saya membentuk imunitas terhadap Rubella, saya tidak boleh hamil. Agak sedih sih karena harus menunda lagi... tapi untuk mengurangi faktor resiko, kayaknya lebih baik begini. Sementara itu dengan darah saya yang cenderung kental, dicurigai menjadi salah satu faktor penyebab janin saya gak berkembang saat itu. Kata dokter kekentalan darah itu, jika levelnya belum parah, mungkin gak terlalu mengganggu aktivitas sehari-hari kita, tapi jika terjadinya di kehamilan, bisa menghambat nutrisi ke janin dan mengakibatkan janin gak berkembang. Saat ini kekentalan darah saya memang belum perlu ditindak lanjuti. Setelah masa tunggu 3 bulan, dokter baru akan fokus ke terapi hormon untuk membesarkan telur saya.

Program ini memang mengajak saya untuk lebih mengenal tubuh saya. Alhamdulillah.