9/20/2014

Pertemuan dengan Bunda Diah

Walaupun belum tau ada pengaruhnya atau engga... saya mencoba menyontek prosedur program ke dokter, ketika datang ke Bunda Diah. Hehhe... Iya, saya sengaja datang ke sana kira-kira seminggu sebelum masuk ke perkiraan masa subur saya. Kurang lebih di H+7 setelah haid. Jadi kalau emang logika 'mematangkan telurnya' sama dengan cara medis, kita gak perlu menunggu siklus berikutnya untuk mulai mencoba. Yaaa siapa tau aja kan yaa...

Jujur, walaupun banyak yang merekomendasikan Bunda ke saya, tapi rata-rata mereka bukan pasien langsung Bunda. Biasanya mereka dapat info dari temannya teman, kakaknya teman dsb. Jadi ketika saya tanya apa yang sebenarnya dilakukan di sana, berapa harganya, di mana lokasi persisnya, ga ada yang bisa jawab :P. Bahkan jawaban itu pun gak berhasil saya dapetin dari mbah Google. Akhirnya karena udah tekad bulat, saya telpon aja rumahnya. Dari lawan bicara saya, dia bilang ini benar rumah bunda Diah, besok (Sabtu) dia praktek dari jam 7 pagi sampai jam 12 siang. Biayanya seikhlasnya aja. Lokasi di kompleks Depsos.

Besoknya gak pake mandi kita langsung meluncur ke sana. Selain ogah rugi sama waktu tidur, kita pikir kalau nanti dipijet dan jadi lengket-lengket gitu kan mending mandinya sekalian ntar aja :P. Untung aja lokasinya yang di kompleks Depsos masih deket dari rumah. Gak nyampe 1/2 jam kita udah sampe. Dan terima kasih atas kecanggihan teknologi Google Maps (walaupun sempet nyasar dikit karena terkecoh sama jalan-jalan setapak) sampailah saya dan Misua di sana tanpa banyak hambatan yang berarti.

Dari tipe kompleksnya yang agak sempit jalanannya, kayaknya emang gak mungkin untuk parkir persis di depan rumahnya. Jadi akhirnya kita parkir di sebuah lapangan di seberang masjid. Lalu jalan kaki (sekitar 300m) dan sampailah kita di rumahnya. Tapi ternyata pas sampai di sana... rumahnya digembok dan gak ada orang... Gubrak hahahhaa... Mau tanya kanan kiri pas lagi ga ada orang. Telpon rumahnya gak ada yang jawab. Sempet ragu juga kita salah rumah... ah tapi bener kok alamatnya. Ya udah dengan berat hati pulanglah kita dengan tangan hampa. Mau marah juga bingung marah sama siapa... hahahaha. Untuk menghibur hati kita sarapan di pasar modern sektor 9... lalu pulang dan melanjutkan tidur.

Karena emang udah niat banget, minggu depannya gak pake kapok kita datengin lagi rumah Bunda. Minggu ini sebenarnya udah masuk masa subur saya. Bisa jadi udah telat kalo mau mematangkan telur di siklus ini. Tapi ga papalah... Mungkin emang gak boleh buru-buru juga. Beda dari minggu sebelumnya, kali ini dari jauh udah keliatan orang-orang berdiri di luar rumahnya. Di teras juga keliatan beberapa orang duduk di kursi yang tersedia, sementara pas saya ngintip ke dalem lebih banyak lagi ibu-ibu dan anak-anak yang duduk di bawah. Sementara di ujung ruangan saya melihat seorang wanita berkaca mata dan berambut cepak sedang memijat. "Hhmm... sepertinya itu tuh yang namanya Bunda." pikir saya dalam hati.

Sebenernya saya bingung banget sih di situ harus ngapain. Gak ada nomor antrean, gak ada line antrean, atau petunjuk apa pun tentang ngantre. Untungnya (masih rezeki juga alhamdulillah) tiba-tiba aja ada orang yang baru saja selesai dipijat dan keluar dari dalam rumah. Dan ternyata dia adalah teman kuliah saya! Perutnya pun sudah buncit dengan kandungan berusia 6 bulan. Dia pun bercerita kisah suksesnya datang ke Bunda dan dia juga memberi banyak tips tentang apa yang harus dilakukan ketika di sana. Saya juga baru tau kalau yang dipijat itu hanya kaki, tangan dan pundak (bukan perutnya)... dan yang dipijat itu bukan hanya istrinya tapi juga suaminya. Saya juga baru tau kalau bayarnya harus dimasukin amplop dulu dan dikasih ke bunda langsung ketika selesai pijat. Untung di mobil ada stok amplop! (langsung buru-buru saya suruh Misua ambil) hahhaa. Dan yang terpenting masalah antrean... Ternyata kuncinya cuma bertanya siapa yang terakhir sebelum kita, karena artinya giliran kita adalah setelah orang itu. Mau duduk di mana pun bebas, selama kita ingat siapa orang sebelum kita.

Alhamdulillah dengan bekal itu saya pun makin pede untuk pijat. Antreannya memang lumayan menguji kesabaran. Karena ternyata orang yang datang bukan hanya sepasang suami istri seperti saya dan Misua. Tapi kadang ada yang datang berbondong-bondong dari Bapak, Ibu, Kakak, Adik, bahkan sampai Ibu Mertua.

Ketika tiba giliran saya, yang pertama kali Bunda lakukan adalah meraba ankle kaki saya. Mungkin itulah cara dia 'membaca tubuh saya'. Tapi begitu pun dia tetap bertanya rekam medis saya. Setelah itu dia membenarkan kalau saya memang menderita PCOS dengan telur yang kecil- kecil. Dia juga menebak kalau saat itu adalah masa subur saya. Dia juga bilang kalau saya ada Tokso dan ada kecenderungan darah kental. Lalu dia pun bilang kalau "ini kita siapin dulu ya, supaya bulan depan bisa mulai diprogram". Benar dugaan saya, ternyata logika mematangkan telurnya juga gak terlalu berbeda dari dokter walaupun mungkin caranya pastilah berbeda. Kalau masalah sakit atau enggaknya, saya gak bisa jawab, karena tiap orang kan berbeda-beda tergantung penyakit yang diderita dan seberapa besar toleransinya terhadap rasa sakit itu sendiri. Kalau buat saya pribadi, untuk di awal pertemuan ini, sakitnya memang luar biasa, walaupun saya gak sampai menjerit-jerit seperti salah satu pasien di sana. Pulang pun menyisakan memar biru di pangkal paha dan lengan. But it's all worth it :)

Pertemuan dengan Bunda memang cukup berkesan. Saya jarang berobat alternatif, jadi memang kadang agak takut karena gak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan di sana. Tapi ternyata sosok Bunda memang jauh dari kesan mengerikan. Dia malah lebih terlihat seperi ibu rumah tangga pada umumnya. Pembawaannya santai banget. Sesekali neriakin anaknya supaya gak lupa masukin gula atau garem ke masakan. Sesekali ngobrolin hobi bersepedanya yang biasa ditempuh sampai ke Bogor atau Ancol sama teman-temannya. Sesekali cerita tentang pasiennya yang lain dengan istilah-istilah kedokteran yang cukup luas. Banyak banget pengetahuan yang kita dapat sambil dipijat dia. Gak ada tuh bau menyan atau asap-asap aneh atau sajen yang selama ini saya bayangkan tentang pengobatan alternatif hahahaha. Cuma dia dan body lotionnya, untuk bantu melincinkan pijatannya aja. Alhamdulillah saya dan Misua dapetin 'chemistry'nya sama beliau. Kita 'feel good' datang ke dia dan insya Allah ini awal yang baik dan membuka energi positif bagi kita.



9/06/2014

Tentang Bunda Diah

Walaupun kita memutuskan untuk berhenti ke dr. Andi, tapi hati kecil saya sebenarnya justru gak mau berhenti di sini aja. Saya merasa saya lagi punya semangat dan energi positif yang sayang banget buat disia-siain. Emang sih biar gimana pun juga kita harus realistis dengan keadaan. Tapi semangat itu juga bukan hal yang bisa datang begitu saja. Saya malah takut kalau berhenti sekarang, nanti kita lagi-lagi malah keenakan dan membuang-buang waktu yang ada. Sementara, usia produktif saya pun semakin di ambang-ambang.

Makanya atas anjuran teman (yang sebenarnya udah merekomendasikan ini dari beberapa tahun yang lalu) saya membulatkan tekad untuk datang ke bunda Diah, seorang terapis pijat alternatif.

Cerita mundur sedikit... Sebenarnya saya memang udah lama banget ingin datang ke beliau. Seenggak-enggaknya dalam rangka berusaha, saya mau untuk mencoba cara apa saja agar bisa hamil. Soalnya saya percaya sih rezeki bisa datang dari mana aja. Jadi kan siapa tau ya... Tapi sayangnya waktu itu Misua kayaknya belum begitu sreg untuk pergi ke sana. Selain karena dia orangnya sangat logis, dia juga mungkin masih penasaran sama dokter. Memang sih kita waktu itu kita memang belum benar-benar serius menjalani program ke dokter. Jadi saya pikir ya udahlah... gak ada salahnya mencoba ke dokter dulu sampai puas sebelum datang ke beliau. Lagipula pengobatan alternatif itu kan faktor sugestinya juga sangat besar. Kalau salah satu dari kita gak yakin ya bakal percuma juga.

Tapi berbeda dengan dulu, situasi kita kali ini memang sedikit berbeda. Kita sudah mencoba program di dokter sampai tabungan kita habis. Selain itu kita juga udah gak punya lagi luxury berupa waktu yang dulu sering kita pakai sebagai alasan... "yaaa masih ada waktulaah...". Makanya ketika akhirnya saya bilang saya mau datang ke Bunda Diah, kali ini Misua pun gak banyak komen dan mengangguk saja.